Translate Page

Monday, January 2, 2012

Ironi Kemiskinan di Aceh

Oleh: T. Bahran  Basyiran, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh


            Persentase penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Aceh pada tahun 2011 sebesar 19,57 persen. Angka ini menurun dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 20,98 persen. Penurunan persentase penduduk miskin tersebut terjadi di daerah perkotaan dan perdesaan.

            Pada periode 2010 - 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.

            Dari sekumpulan data BPS Aceh di atas mengenai persentase penduduk miskin 2004-2011, dapat dilihat bahwa angka kemiskinan terus menurun mulai dari tahun 2005 (hanya terjadi kenaikan 0,32% pada rentang 2004-2005). Tentu ini merupakan suatu hal yang positif bagi daerah. Tapi, persentase kemiskinan di Aceh hampir setengah lebih besar dari kemiskinan di seluruh Nusantara. Salah satu data yang range perbedaannya lebih besar terjadi pada tahun 2005, kemiskinan di Aceh sebesar 28,69% sedangkan Indonesia secara keseluruhan sebesar 15,97%, selisih 12,72%. Untuk data tahun 2010, Aceh menduduki peringkat ke-7 klasemen dengan persentase kemiskinan tertinggi. Wow tragis!

            Ironisnya, Aceh memiliki anggaran belanja yang cukup besar yaitu Rp8,25 Trilliun, belum lagi ditambah dengan dana otonomi khusus sebesar Rp3 Trilliun. Dan juga seperti yang kita ketahui, di Aceh banyak terdapat sumber daya alam yang besar, seperti dunia perindustrian (khususnya pertambangan) di Kabupaten Aceh Utara. Luar biasa memang kekayaan yang dimiliki oleh Aceh, tapi sayangnya kemiskinan masyarakatnya ke-7 di Indonesia dan peringkat kedua terbanyak daerah tertinggal (setelah Papua). Sangat sangat sangat ironis. Huh.

            Untuk data tentang keadaan ketenagakerjaan Februari 2011, jumlah angkatan kerja dan penduduk yang bekerja di Aceh meningkat hampir 10% dari tahun sebelumnya. Di samping itu, jumlah pengangguran juga mengalami peningkatan hampir mencapai 4% dari tahun sebelumnya. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka menurun 0,33% dari tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa persaingan “merebut” lapangan pekerjaan semakin besar. Efek persaingan ini merupakan hal yang positif karena dapat menghasilkan pekerja yang handal, tapi tanpa sadar kemiskinan meningkat dikarenakan masyarakat bawah cenderung segan untuk masuk ke dalam persaingan tersebut, sehingga meningkat pula pengangguran.

            Permasalahan gender dalam dunia pekerjaan sudah tidak asing lagi di Bumi Serambi Mekkah ini. Faktor masyrakat sebagai penganut budaya fundamentalisme yang menyebabkan problema perbedaan gender dalam dunia kerja itu ada. Tapi data membuktikan tidak ada perbedaan yang menonjol pada wanita yang bekerja dengan status buruh/karyawan/pegawai, hanya berbeda 3,87% lebih sedikit dibandingkan laki-laki.

No comments:

Post a Comment